Beranda / Nasional / Fenomena Gunung Menangis di Sembalun Lombok Viral, Ini Fakta Ilmiah di Baliknya

Fenomena Gunung Menangis di Sembalun Lombok Viral, Ini Fakta Ilmiah di Baliknya

Video Air Terjun Dadakan di Lereng Bukit Sembalun Hebohkan Media Sosial

Fenomena alam tak biasa kembali menyita perhatian publik. Sebuah video yang memperlihatkan aliran air menyerupai air terjun di lereng perbukitan kawasan Sembalun, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, mendadak viral di media sosial. Kejadian tersebut memunculkan istilah unik dari warganet, yakni “gunung menangis”, karena air tampak mengalir deras dari dinding bukit yang biasanya kering.

Fenomena ini menuai beragam reaksi, mulai dari kekaguman hingga spekulasi adanya pertanda alam tertentu. Namun, para ahli menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan kejadian alam yang dapat dijelaskan secara ilmiah.


Penjelasan Ahli ITB: Sungai Intermiten Jadi Penyebab Utama

Vulkanolog Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrachman, menjelaskan bahwa fenomena air terjun dadakan di Sembalun dikenal dalam ilmu geologi sebagai sungai intermiten.

Sungai intermiten merupakan aliran air yang hanya muncul pada waktu tertentu, khususnya saat musim hujan, dan akan menghilang kembali ketika hujan berhenti atau memasuki musim kemarau. Aliran ini berbeda dengan sungai permanen yang mengalir sepanjang tahun.

Menurut Mirzam, wilayah Sembalun memiliki karakteristik batuan berupa breksi vulkanik dan lava yang bersifat relatif kedap air. Akibatnya, air hujan tidak banyak meresap ke dalam tanah dan justru mengalir di permukaan lereng bukit.


Curah Hujan Tinggi dan Alih Fungsi Lahan Perparah Kondisi

Langka! Fenomena Gunung Menangis di Sembalun, Air Terjun Dadakan Bikin  Warga Panik - Suara Merdeka

Selain faktor geologi, curah hujan tinggi yang terjadi selama beberapa hari berturut-turut menjadi pemicu utama munculnya aliran air tersebut. Air hujan yang terkumpul kemudian mengikuti alur sungai kering dan mengalir hingga ke ujung lereng, menciptakan efek visual seperti air terjun.

Mirzam juga menyoroti dampak alih fungsi lahan di kawasan perbukitan. Berkurangnya vegetasi dan akar pohon menyebabkan air hujan tidak tertahan di tanah dan langsung mengalir ke bawah. Kondisi ini membuat aliran air semakin deras dan tampak dramatis.


Badan Geologi Pastikan Fenomena Ini Bersifat Sementara

Ketua Tim Geologi Lingkungan di Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Badan Geologi, Tantan Hidayat, membenarkan bahwa fenomena air terjun dadakan di Sembalun terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama empat hari.

Berdasarkan laporan petugas Taman Nasional Gunung Rinjani, kejadian serupa sebenarnya cukup sering terjadi di kawasan tersebut. Air akan mengalir deras saat hujan dan kembali menghilang ketika curah hujan berkurang.

Tantan menjelaskan, aliran air tersebut berasal dari sungai intermiten yang aktif kembali saat hujan deras karena batuan di kawasan itu tidak menyerap air secara optimal.


Lokasi Titik Air Terjun Dadakan di Kawasan Sembalun

Badan Geologi mencatat, fenomena air terjun musiman ini muncul di beberapa titik di wilayah Desa Sembalun Bumbung, antara lain:

  • Bukit Telaga

  • Bukit Amben

  • Bukit Batu Nunggang

  • Bukit Long

Fenomena ini bersifat alami, muncul saat hujan deras berkepanjangan, dan akan lenyap secara alami setelah hujan berhenti.


Potensi Risiko Jika Lingkungan Tidak Dijaga

Meski tidak berbahaya secara langsung, para ahli mengingatkan bahwa fenomena ini bisa menjadi indikator adanya perubahan lingkungan. Jika alih fungsi lahan terus terjadi tanpa pengelolaan yang baik, risiko bencana seperti longsor dan banjir bandang dapat meningkat di masa depan.

Oleh karena itu, fenomena “gunung menangis” tidak hanya menjadi tontonan viral, tetapi juga peringatan penting tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.


Fenomena gunung menangis di Sembalun Lombok kembali membuktikan bahwa kejadian alam yang viral di media sosial kerap memiliki penjelasan ilmiah yang jelas dan masuk akal. Meski terlihat dramatis, air terjun dadakan tersebut merupakan proses alamiah yang dipicu oleh curah hujan tinggi dan karakteristik geologi wilayah Sembalun.

Berita Viral Detik mencatat, fenomena ini juga menjadi pengingat penting bagi masyarakat dan pemangku kebijakan untuk lebih memperhatikan kondisi lingkungan, khususnya di kawasan perbukitan dan pegunungan. Tanpa pengelolaan lahan yang baik, kejadian serupa berpotensi memicu bencana alam seperti longsor dan banjir di masa mendatang.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *