Istilah “super flu” belakangan menjadi perbincangan luas di masyarakat, baik di Indonesia maupun secara global. Banyak orang menggunakan istilah ini untuk menggambarkan kondisi flu dengan gejala yang terasa lebih berat dan mengganggu aktivitas dibandingkan flu musiman pada umumnya.
Namun perlu dipahami, super flu bukanlah istilah resmi dalam dunia medis. Istilah ini lebih bersifat populer dan digunakan masyarakat untuk menyebut varian influenza yang menyebar luas dengan intensitas gejala yang dirasakan lebih kuat.
Gejala Super Flu yang Umum Terjadi
Menurut dokter asal Inggris, Dr. Nisa Aslam, gejala super flu pada dasarnya masih mirip dengan flu biasa. Perbedaannya terletak pada tingkat keparahan dan rasa tidak nyaman yang lebih intens pada sebagian penderita.
Gejala yang paling sering muncul antara lain:
-
Demam
-
Batuk
-
Sakit tenggorokan
-
Nyeri otot dan sendi
-
Kelelahan ekstrem
-
Gangguan pencernaan pada sebagian kasus
Meski gejalanya terasa berat, hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa super flu menyebabkan durasi sakit lebih lama dibandingkan flu musiman sebelumnya.
Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai
Dikutip dari The Telegraph, Dr. Nisa Aslam juga menekankan adanya sejumlah tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan. Jika gejala ini muncul, penderita disarankan segera mencari bantuan medis.
Tanda bahaya tersebut meliputi:
-
Kesulitan bernapas
-
Nyeri dada
-
Kebingungan atau penurunan kesadaran
-
Demam tinggi yang tidak kunjung turun
-
Dehidrasi berat
-
Kondisi tubuh yang tiba-tiba memburuk
Kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi serius adalah lansia, anak-anak, ibu hamil, serta individu dengan sistem imun lemah.
Apakah Super Flu Membuat Sakit Lebih Lama?
Profesor virologi molekular dan selular dari Pusat Riset Virus Glasgow, Ed Hutchinson, menjelaskan bahwa flu memang memiliki karakteristik yang sangat bervariasi.
“Sebagian orang bisa merasa sangat tidak enak badan selama beberapa hari, sementara yang lain bisa merasakannya hingga berminggu-minggu. Namun, tidak ada bukti bahwa varian ini memperpanjang durasi gejala,” ujarnya.
Artinya, meski terasa lebih berat pada sebagian orang, super flu tidak terbukti memperpanjang masa sakit secara signifikan.
Mutasi Virus di Balik Super Flu


Super flu bersumber dari virus Influenza A (H3N2) subclade K, yang merupakan bagian dari virus influenza musiman yang telah lama beredar di dunia.
Subclade K bukan virus baru, melainkan hasil mutasi genetik dari H3N2 yang membuat virus ini lebih mudah menular di masyarakat.
Menurut WHO, varian ini pertama kali terdeteksi pada Agustus 2025 di Australia dan Selandia Baru, dan kemudian menyebar ke berbagai negara.
Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa hingga kini, subclade K telah dilaporkan di lebih dari 80 negara.
Situasi Super Flu di Indonesia
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI hingga Desember 2025, tercatat 62 kasus super flu di Indonesia. Mayoritas kasus ditemukan pada kelompok perempuan dan anak-anak.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr Prima Yosephine, menegaskan bahwa berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi global, tidak ditemukan peningkatan tingkat keparahan pada influenza A (H3N2) subclade K.
Gejala yang muncul tetap serupa dengan flu musiman pada umumnya.
Perbedaan Super Flu dan COVID-19
Super flu kerap disalahartikan sebagai penyakit yang setara dengan COVID-19. Padahal, keduanya berasal dari kelompok virus yang berbeda.
-
Super flu: disebabkan oleh virus influenza
-
COVID-19: disebabkan oleh coronavirus, turunan dari SARS
Meski memiliki gejala yang mirip seperti demam, batuk, dan kelelahan, mekanisme infeksi dan karakter virusnya berbeda.
Langkah Pencegahan Super Flu yang Disarankan
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa super flu tidak lebih mematikan dibandingkan influenza biasa, COVID-19, maupun penyakit pernapasan menular lainnya.
Oleh karena itu, pencegahannya pun relatif sederhana dan sudah dikenal masyarakat.
Langkah pencegahan yang dianjurkan Kemenkes antara lain:
-
Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
-
Menjaga daya tahan tubuh dengan pola hidup seimbang
-
Melakukan vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi lansia, ibu hamil, dan penderita komorbid
-
Tetap di rumah saat mengalami gejala flu
-
Menggunakan masker saat sakit
-
Menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin
-
Memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika gejala tidak membaik lebih dari tiga hari
Fenomena super flu memang menimbulkan kekhawatiran di masyarakat, namun fakta medis menunjukkan bahwa virus ini bukan ancaman baru yang lebih mematikan. Dengan pemahaman yang tepat, kewaspadaan yang bijak, serta penerapan pola hidup sehat, risiko penularan dan komplikasi dapat ditekan secara efektif.
Berita Viral Detik mencatat, edukasi yang benar dan pencegahan yang konsisten menjadi kunci utama agar masyarakat tetap aman tanpa perlu panik menghadapi isu super flu.








