Beranda / Nasional / Tragedi Siswa SD di NTT Diduga Bunuh Diri karena Tak Mampu Beli Buku, Pakar UGM dan Psikiater Angkat Suara

Tragedi Siswa SD di NTT Diduga Bunuh Diri karena Tak Mampu Beli Buku, Pakar UGM dan Psikiater Angkat Suara

Tragedi Pendidikan di NTT Buka Luka Lama: Akses Bantuan, Anggaran Negara, dan Beban Mental Anak

Jakarta – Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka. Seorang siswa kelas 4 Sekolah Dasar di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga meninggal dunia akibat bunuh diri setelah disebut tidak mampu membeli buku dan pulpen untuk keperluan sekolah.

Peristiwa memilukan ini langsung memantik keprihatinan luas, termasuk dari kalangan akademisi dan tenaga kesehatan jiwa. Pakar pendidikan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Agus Sartono, MBA, menyebut kejadian tersebut sebagai alarm keras bagi sistem pendidikan dan perlindungan sosial di Indonesia.

“Saya tentu sangat prihatin atas kejadian ini,” ujar Prof Agus kepada detikEdu, Rabu (4/2/2026).


Tanggung Jawab Pendidikan Dasar Ada di Pemerintah Daerah

Prof Agus menjelaskan bahwa secara regulasi, negara sebenarnya telah menetapkan pembagian tanggung jawab yang jelas. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, pengelolaan pendidikan dasar seperti SD dan SMP menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota.

Sementara itu, pendidikan SMA dan SMK berada di bawah pemerintah provinsi, dan pendidikan berbasis keagamaan menjadi tanggung jawab Kementerian Agama.

Dengan sistem pendataan berjenjang yang sudah tersedia—mulai dari Dapodik di sekolah hingga data keluarga kurang mampu milik Kementerian Sosial dan Dinas Sosial—Prof Agus menilai tragedi seperti ini seharusnya bisa dicegah.

“Anak-anak seperti ini mestinya berhak menerima KIP dan bantuan sosial lainnya,” tegasnya.

Ia pun berharap kejadian serupa tidak kembali terulang, terlebih setelah Mahkamah Konstitusi memutuskan kewajiban negara menyelenggarakan pendidikan gratis selama 12 tahun.


Dana Makan Bergizi Gratis Dinilai Bisa Dialihkan untuk Anak Rentan

Viral Siswa SD di NTT Meninggal Imbas Tak Mampu Beli Buku, Pakar UGM Sorot Dana MBG

Lebih jauh, Prof Agus menyoroti implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi prioritas pemerintah. Meski mengapresiasi tujuan program tersebut, ia menilai masih ada ruang untuk penghematan dan penyesuaian kebijakan.

Menurutnya, saat masa libur sekolah—seperti libur puasa dan Lebaran—program MBG seharusnya tidak perlu dijalankan penuh. Dana yang dihemat bisa dialihkan untuk membantu anak-anak yang mengalami kesulitan ekonomi ekstrem.

“Jika satu hari belanja MBG mencapai Rp1 triliun, maka saat libur sekolah dananya lebih dari cukup untuk mengatasi anak-anak yang kesulitan,” jelas Guru Besar FEB UGM itu.

Ia menegaskan bahwa penghematan tersebut bukan untuk menghentikan program prioritas, melainkan agar anggaran negara lebih adaptif terhadap kondisi darurat sosial.

“Dengan begitu, program prioritas tetap jalan dan anak-anak tidak sampai berada di titik putus asa,” imbuhnya.


Psikiater: Anak Tidak Ingin Mati, Mereka Tidak Tahu Cara Bertahan

Tragedi ini juga mendapat perhatian serius dari sisi kesehatan mental. Spesialis kesehatan jiwa, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menegaskan bahwa anak usia 9–10 tahun belum sepenuhnya memahami konsep kematian sebagai sesuatu yang permanen.

Menurutnya, tindakan ekstrem pada anak sering kali bukan dorongan untuk mengakhiri hidup, melainkan ekspresi ketidakmampuan menghadapi beban yang terlalu berat.

“Anak tidak sedang ingin mati, ia sedang tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan beban yang terlalu berat,” ungkap dr Lahargo, Rabu (4/2/2026).

Ia menambahkan bahwa tekanan ekonomi keluarga dapat menjadi beban sistemik bagi kesehatan mental anak. Anak kerap menyerap kecemasan orang tua, merasa bersalah, dan menganggap dirinya sebagai penyebab kesulitan keluarga.

“Ketika anak memikul beban orang dewasa, itu tanda sistem belum cukup memeluk,” ujarnya.


Penutup Berita Viral Detik

Tragedi di Ngada bukan sekadar kisah duka satu keluarga, melainkan cermin kegagalan sistemik yang harus segera dibenahi. Akses bantuan pendidikan, fleksibilitas anggaran, serta perlindungan kesehatan mental anak menjadi pekerjaan rumah besar bagi negara.

Jika negara tak hadir lebih cepat, anak-anak yang seharusnya bermimpi justru terjebak dalam beban yang tak sanggup mereka pikul.

🔥 Ikuti terus berita pendidikan, sosial, dan isu kemanusiaan paling menyentuh hanya di Berita Viral Detik.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *