Ajang penghargaan paling bergengsi di dunia perfilman, Academy Awards ke-98, yang digelar di Dolby Theatre pada Minggu (15/3/2026), menjadi panggung bersejarah bagi industri hiburan Korea Selatan.
Film animasi KPop Demon Hunters sukses mencuri perhatian global setelah meraih dua penghargaan sekaligus. Salah satu yang paling prestisius adalah kategori Best Original Song melalui lagu berjudul Golden.
Kemenangan ini bukan hanya menjadi pencapaian besar bagi tim produksi, tetapi juga menandai tonggak penting dalam sejarah musik global—karena untuk pertama kalinya lagu K-pop berhasil membawa pulang piala Oscar.
Momen Haru Berubah Jadi Kontroversi
Meski penuh kebanggaan, momen kemenangan tersebut justru berubah menjadi kontroversi yang ramai diperbincangkan publik.
Saat para kreator naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan, suasana awalnya berlangsung penuh haru. Salah satu sosok penting di balik lagu tersebut, EJAE, menyampaikan pidato emosional mengenai perjalanan kariernya.
Ia mengungkapkan bagaimana kecintaannya pada K-pop sempat menjadi bahan ejekan di masa lalu. Kini, justru karya tersebut diakui secara global, bahkan dinyanyikan oleh banyak orang dalam bahasa Korea.
Namun, suasana tersebut mendadak berubah ketika pidato belum selesai disampaikan.
Pidato Dipotong Musik dan Lampu Dipadamkan

Ketegangan mulai muncul ketika produser Lee Yu-han mencoba melanjutkan pidato setelah EJAE.
Baru saja ia mengucapkan beberapa kata pembuka, tiba-tiba musik orkestra dimainkan dengan volume tinggi. Suaranya pun tenggelam dan tidak lagi terdengar oleh penonton.
Tidak berhenti di situ, situasi menjadi semakin canggung ketika lampu panggung mulai diredupkan, bahkan sebagian dimatikan, meskipun para pemenang masih berdiri di depan mikrofon.
EJAE yang berada di sampingnya terlihat berusaha meminta tambahan waktu agar pidato dapat diselesaikan. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena musik tetap dimainkan sebagai tanda waktu mereka telah habis.
Perbandingan Durasi Picu Kemarahan Publik
Insiden ini memicu reaksi keras dari publik, terutama di media sosial.
Banyak penonton membandingkan durasi pidato pemenang dari berbagai kategori selama siaran langsung. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan yang cukup mencolok.
Tim KPop Demon Hunters disebut hanya diberi waktu kurang dari dua menit sebelum dipotong. Sementara itu, pemenang kategori lain seperti sinematografi mendapatkan waktu hampir dua kali lebih lama.
Lebih mencolok lagi, kategori utama seperti aktor, aktris, dan sutradara justru diberikan kebebasan berbicara lebih lama hingga menjelang akhir acara.
Perbedaan perlakuan ini memicu spekulasi mengenai adanya ketidakadilan, bahkan dugaan bias terhadap kreator asal Asia.
Insiden Serupa Terjadi di Kategori Lain
Kontroversi semakin memanas setelah diketahui bahwa kejadian serupa juga menimpa produser lain dari KPop Demon Hunters, yaitu Michelle L.M. Wong.
Saat menerima penghargaan Best Animated Feature, musik kembali dimainkan tepat ketika ia hendak berbicara.
Padahal sebelumnya, sutradara Maggie Kang dan Chris Appelhans telah menyelesaikan pidato mereka.
Akibatnya, ucapan terima kasih dari para produser harus dilanjutkan di belakang panggung, bukan di hadapan audiens global seperti yang diharapkan.
Dominasi Global Lagu “Golden”
Terlepas dari kontroversi yang terjadi, kesuksesan lagu Golden tetap tidak terbantahkan.
Lagu ini sebelumnya telah mencetak berbagai prestasi gemilang, di antaranya:
-
menduduki puncak Billboard Global 200 di lebih dari 30 negara
-
memenangkan penghargaan di Grammy Awards 2026
-
menjadi salah satu lagu K-pop paling berpengaruh secara global
Lagu ini merupakan hasil kolaborasi sejumlah musisi berbakat, termasuk Mark Sonnenblick dan Teddy Park, yang dikenal sebagai produser di balik banyak hits K-pop internasional.
KPop Demon Hunters Ukir Sejarah Film Animasi
Tidak hanya di kategori musik, KPop Demon Hunters juga mencetak prestasi besar di dunia perfilman.
Film ini berhasil memenangkan kategori Best Animated Feature, menjadikannya salah satu film animasi paling sukses dalam musim penghargaan tahun 2026.
Keberhasilan ini sekaligus memperkuat posisi Korea Selatan sebagai salah satu kekuatan besar dalam industri hiburan global, tidak hanya di musik tetapi juga di film.
Sorotan terhadap Representasi Asia di Industri Global
Kontroversi pemotongan pidato ini membuka kembali diskusi panjang mengenai representasi dan perlakuan terhadap kreator Asia di panggung internasional.
Banyak pihak menilai bahwa momen kemenangan seharusnya menjadi ruang apresiasi penuh bagi para pemenang, terutama ketika mereka mencetak sejarah baru.
Namun, kejadian di Oscar 2026 justru meninggalkan tanda tanya besar terkait konsistensi dan keadilan dalam penyelenggaraan acara.
Kemenangan KPop Demon Hunters di ajang Oscar 2026 menjadi bukti nyata bahwa karya dari Asia mampu bersaing dan bahkan mendominasi panggung global. Namun di balik prestasi gemilang tersebut, kontroversi pemotongan pidato menjadi catatan penting yang tidak bisa diabaikan.
Peristiwa ini bukan hanya tentang durasi berbicara, tetapi juga menyangkut penghargaan terhadap karya, identitas, dan perjuangan para kreator di tingkat internasional.
Ikuti terus perkembangan terbaru seputar dunia hiburan global, kontroversi ajang bergengsi, serta kabar viral lainnya hanya di sajian lengkap berita viral detik.








