Beranda / Internasional / Inggris Tersinggung Usai Trump Remehkan Peran NATO

Inggris Tersinggung Usai Trump Remehkan Peran NATO

Jakarta — Hubungan diplomatik Inggris dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan kontroversial terkait peran NATO dalam perang Afghanistan. Pemerintah Inggris secara terbuka menyatakan ketersinggungannya, menilai Trump telah meremehkan pengorbanan besar yang dilakukan pasukan sekutu, termasuk tentara Inggris.

Pernyataan Trump itu memicu kemarahan luas di kalangan pejabat pemerintah, anggota parlemen, hingga veteran militer Inggris yang merasa jasa mereka diabaikan.


Trump Dinilai Salah Kaprah Soal Kontribusi NATO

Dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis (22/1), Donald Trump menyatakan keraguannya terhadap komitmen NATO jika suatu saat Amerika Serikat membutuhkan bantuan militer. Ia bahkan menyebut pasukan NATO yang dikirim ke Afghanistan pada 2001 berada jauh dari garis depan pertempuran.

Ucapan tersebut langsung dibantah keras oleh pemerintah Inggris. Juru bicara Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan bahwa Trump telah keliru dan tidak memahami fakta di lapangan.

Menurutnya, pasukan NATO—termasuk Inggris—terlibat aktif dalam operasi berbahaya pasca-serangan teror 11 September 2001, bukan sekadar berada di wilayah aman seperti yang disiratkan Trump.


Ratusan Tentara Inggris Gugur di Afghanistan

Pemerintah Inggris tersinggung dan marah usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meremehkan peran pasukan NATO di Afghanistan.

Inggris menjadi salah satu sekutu utama AS dalam invasi Afghanistan. Sejak awal operasi militer, ribuan tentara Inggris dikerahkan ke wilayah konflik dengan risiko tinggi.

Data resmi menunjukkan 457 personel militer Inggris tewas selama misi di Afghanistan. Selain itu, ratusan lainnya mengalami luka serius, trauma fisik, dan cedera permanen yang mengubah hidup mereka.

“Ratusan prajurit kami mengorbankan nyawa dan masa depan mereka demi membantu Amerika Serikat dan sekutu NATO,” ujar juru bicara Perdana Menteri Inggris dengan nada tegas.


NATO Aktifkan Pasal 5 Demi AS

Pasca-serangan Al Qaeda pada 11 September 2001 di New York dan Washington, NATO mengambil langkah bersejarah dengan mengaktifkan Pasal 5 untuk pertama kalinya. Klausul ini menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota NATO dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi.

Langkah itu menjadi dasar keterlibatan militer banyak negara, termasuk Inggris, dalam operasi Afghanistan yang berlangsung lebih dari satu dekade.


Kecaman dari Pejabat hingga Veteran Militer

Kritik terhadap Trump tidak hanya datang dari pemerintah. Sejumlah menteri, anggota parlemen lintas partai, dan komunitas veteran militer ikut menyuarakan kemarahan.

Menteri Pertahanan John Healey menegaskan bahwa para prajurit yang gugur di Afghanistan adalah pahlawan sejati.

“Mereka harus dikenang sebagai prajurit yang mengorbankan nyawa demi melayani bangsa dan menjaga keamanan dunia,” ujar Healey.


Ketegangan Lama yang Kembali Membara

Pernyataan Trump ini kembali membuka luka lama perang Afghanistan dan memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan hubungan AS dengan sekutu tradisionalnya. Di tengah situasi geopolitik global yang kian rapuh, komentar seperti ini dinilai berpotensi memperlebar jarak antarnegara sekutu.

👉 Ikuti terus perkembangan politik internasional, isu global, dan berita viral dunia hanya di situs berita viral Detik. Jangan sampai ketinggalan fakta penting yang membentuk arah dunia hari ini.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *