PBB Soroti Nasib Anak-Anak Gaza di Tengah Gencatan Senjata
Gaza – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali mengeluarkan laporan mengejutkan terkait kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza. Di tengah status gencatan senjata yang seharusnya menghentikan kekerasan, puluhan anak justru masih kehilangan nyawa akibat operasi militer Israel.
Badan PBB yang menangani anak-anak, UNICEF, mengungkapkan bahwa lebih dari 100 anak Palestina tewas di Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan. Fakta ini disampaikan langsung oleh juru bicara UNICEF, James Elder, dalam konferensi pers di Jenewa, Selasa (13/1/2026).
Data UNICEF: Anak Laki-Laki dan Perempuan Sama-sama Jadi Korban
Menurut data yang dihimpun UNICEF, korban anak-anak tersebut terdiri dari setidaknya 60 anak laki-laki dan 40 anak perempuan. Mereka tewas di wilayah Palestina yang diduduki Israel meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan.
“Lebih dari 100 anak telah tewas di Gaza sejak gencatan senjata,” ujar James Elder kepada wartawan.
Ia menambahkan bahwa angka tersebut berarti setidaknya satu anak meninggal setiap hari selama periode gencatan senjata, sebuah fakta yang dinilainya sangat mengkhawatirkan dan tidak dapat diterima secara kemanusiaan.

Serangan Udara, Drone, hingga Tank Tetap Menewaskan Anak-Anak
UNICEF menegaskan bahwa kematian anak-anak tersebut bukan disebabkan oleh kecelakaan semata, melainkan akibat langsung dari aksi militer Israel yang terus berlangsung.
James Elder merinci berbagai metode serangan yang menyebabkan anak-anak Gaza kehilangan nyawa, antara lain:
-
Serangan udara
-
Serangan pesawat tak berawak (drone)
-
Drone bunuh diri
-
Tembakan tank
-
Peluru tajam
-
Serangan helikopter tempur
“Anak-anak ini tewas akibat serangan udara dan serangan pesawat tak berawak. Mereka tewas akibat tembakan tank, peluru tajam, dan helikopter tempur,” jelas Elder.
Ia menegaskan bahwa angka 100 anak yang tewas tersebut merupakan jumlah minimum, dan kemungkinan korban sebenarnya jauh lebih tinggi mengingat keterbatasan akses serta kondisi lapangan yang masih berbahaya.
Gencatan Senjata Dipertanyakan: “Ini Tidak Cukup”
Dalam pernyataannya, UNICEF secara tegas mempertanyakan makna dan efektivitas gencatan senjata yang saat ini berlaku di Gaza. Menurut Elder, gencatan senjata seharusnya melindungi warga sipil, terutama anak-anak, bukan sekadar mengurangi intensitas pengeboman.
“Gencatan senjata yang memperlambat pengeboman adalah kemajuan,” kata Elder.
“Namun gencatan senjata yang masih mengubur anak-anak tidaklah cukup.”
Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaan mendalam lembaga kemanusiaan dunia terhadap kondisi di lapangan, di mana anak-anak tetap menjadi korban utama konflik bersenjata.
Krisis Kemanusiaan Anak Gaza Terus Memburuk
Laporan UNICEF ini menambah daftar panjang peringatan internasional mengenai krisis kemanusiaan di Gaza. Anak-anak di wilayah tersebut tidak hanya menghadapi ancaman serangan militer, tetapi juga kekurangan pangan, air bersih, layanan kesehatan, serta trauma psikologis akibat konflik berkepanjangan.
PBB berulang kali menyerukan perlindungan maksimal bagi warga sipil, terutama anak-anak, sesuai dengan hukum humaniter internasional. Namun hingga kini, seruan tersebut dinilai belum sepenuhnya diimplementasikan di lapangan.
Laporan UNICEF tentang lebih dari 100 anak yang tewas di Gaza selama masa gencatan senjata menjadi alarm keras bagi komunitas internasional. Fakta bahwa anak-anak masih kehilangan nyawa akibat operasi militer menunjukkan bahwa gencatan senjata tanpa perlindungan nyata bagi warga sipil belum dapat disebut sebagai perdamaian. Dunia kembali ditantang untuk bertindak lebih tegas demi menghentikan tragedi kemanusiaan yang terus berulang di Gaza. Berita Viral Detik








