Beranda / Internasional / Thailand Hadapi Krisis Konsumsi Garam, Pemerintah Pertimbangkan Pajak Natrium

Thailand Hadapi Krisis Konsumsi Garam, Pemerintah Pertimbangkan Pajak Natrium

Di sebuah sudut kota Bangkok, aroma kuah mi yang gurih menguar dari sebuah kedai kecil di bawah jalan layang. Setiap hari menjelang siang, Pirada Rattachai bersama timnya bekerja cepat menyajikan mangkuk demi mangkuk mi panas dengan topping ayam, telur, dan berbagai bumbu khas Thailand.

Hidangan sederhana ini merupakan salah satu comfort food favorit masyarakat kota. Namun di balik kelezatannya, terdapat persoalan kesehatan serius: kandungan garam yang sangat tinggi.

Kondisi ini kini menjadi perhatian pemerintah Thailand yang tengah mempertimbangkan kebijakan pajak natrium untuk menekan konsumsi garam berlebih yang telah memicu berbagai penyakit kronis di negara tersebut.


Mi Instan dan Kandungan Natrium yang Tinggi

Mi instan menjadi salah satu makanan praktis paling populer di Thailand. Satu bungkus saja hampir mencapai batas maksimum konsumsi natrium harian yang direkomendasikan oleh World Health Organization.

WHO menyarankan orang dewasa tidak mengonsumsi lebih dari 2.000 miligram natrium per hari. Namun kenyataannya, satu porsi mi instan dengan kuah dan tambahan topping seperti daging, saus, atau telur bisa melampaui batas tersebut.

Meski demikian, bagi sebagian besar pelanggan kedai mi di Bangkok, masalah kadar garam jarang menjadi perhatian.

Pirada, pemilik kedai mi tersebut, mengaku hampir tidak pernah mendapat permintaan dari pelanggan untuk mengurangi rasa asin pada makanannya.

Sebaliknya, banyak pelanggan justru menambahkan bumbu tambahan sebelum mulai makan.


Budaya Kuliner Thailand yang Kaya Rasa

Kecintaan masyarakat Thailand terhadap rasa asin tidak muncul begitu saja. Secara historis, garam memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Thailand, terutama sebelum teknologi pendingin modern seperti kulkas tersedia.

Di wilayah pesisir, masyarakat memproduksi saus ikan sebagai bahan pengawet makanan. Sementara di daerah pedalaman, ikan fermentasi, terasi, dan daging yang diasinkan menjadi metode utama untuk menjaga makanan tetap awet di iklim tropis.

Seiring waktu, bahan-bahan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pengawet, tetapi juga menjadi fondasi dari berbagai hidangan tradisional Thailand.

Kuliner Thailand dikenal dengan kombinasi rasa yang kompleks: asin, manis, asam, dan pedas. Dalam komposisi ini, garam tetap menjadi elemen utama yang memperkuat rasa.


Konsumsi Garam di Thailand Hampir Dua Kali Lipat Batas WHO

Data dari survei kesehatan nasional Thailand menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi natrium warga negara tersebut mencapai sekitar 3.600 miligram per hari.

Angka ini hampir dua kali lipat dari batas yang direkomendasikan WHO.

Bahkan sekitar 88 persen masyarakat Thailand tercatat mengonsumsi natrium lebih banyak dari yang dianjurkan.

Dampaknya terlihat jelas pada kondisi kesehatan masyarakat. Dari sekitar 58 hingga 60 juta populasi dewasa Thailand:

  • Sekitar 17 juta orang menderita hipertensi

  • Sekitar 8 juta orang mengalami penyakit ginjal kronis

  • Sekitar 200.000 orang berada pada tahap akhir penyakit ginjal

Para ahli kesehatan menilai konsumsi garam berlebih merupakan salah satu faktor utama penyebab meningkatnya kasus penyakit tersebut.


Mengapa Garam Berbahaya bagi Tubuh?

Konsumsi natrium dalam jumlah besar dapat memicu berbagai masalah kesehatan serius.

Ketika seseorang mengonsumsi terlalu banyak garam, tubuh akan menahan lebih banyak cairan. Kondisi ini meningkatkan volume darah yang mengalir melalui pembuluh darah.

Akibatnya:

  • Tekanan darah meningkat

  • Risiko serangan jantung bertambah

  • Kemungkinan stroke menjadi lebih tinggi

  • Risiko penyakit ginjal kronis meningkat

Para dokter menyebut kondisi ini sebagai salah satu penyebab utama meningkatnya beban biaya kesehatan bagi negara dan masyarakat.


Rencana Pajak Garam untuk Makanan Tinggi Natrium

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah Thailand melalui Departemen Cukai tengah merancang kebijakan pajak natrium.

Kebijakan ini akan diterapkan secara bertahap, dimulai dari makanan olahan seperti camilan dan keripik yang memiliki kadar garam tinggi.

Prinsipnya sederhana:
semakin tinggi kandungan natrium dalam produk, semakin besar pajak yang dikenakan.

Pada tahap berikutnya, kebijakan ini kemungkinan akan mencakup produk lain seperti mi instan dan makanan kemasan.

Tujuan utama kebijakan ini adalah:

  1. Mendorong produsen mengurangi kadar garam dalam produk mereka

  2. Mengurangi konsumsi natrium masyarakat

  3. Menurunkan risiko penyakit kronis dalam jangka panjang


Kebijakan Serupa Pernah Diterapkan untuk Gula

Thailand sebenarnya telah memiliki pengalaman dengan kebijakan pajak kesehatan.

Pada tahun 2017, pemerintah menerapkan pajak gula pada minuman berpemanis.

Minuman dengan kadar gula tertinggi dikenai pajak sekitar 5 baht per liter. Kebijakan ini mendorong banyak produsen mengurangi kandungan gula dalam produk mereka.

Selain itu, beberapa jaringan kopi besar di Thailand baru-baru ini sepakat mengurangi hingga 50 persen kadar gula dalam minuman dengan label “kemanisan normal”.


Perdebatan: Apakah Pajak Garam Efektif?

Meski didukung oleh banyak pakar kesehatan, kebijakan pajak garam juga menuai kritik.

Sebagian pihak menilai pajak saja tidak cukup untuk mengubah kebiasaan makan masyarakat yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun.

Beberapa dokter bahkan menilai produsen kemungkinan hanya akan menaikkan harga produk tanpa benar-benar mengurangi kandungan garam.

Sebagai alternatif, para ahli mengusulkan beberapa langkah tambahan seperti:

  • Pelabelan makanan dengan kode warna untuk menunjukkan kadar garam

  • Regulasi ketat terhadap industri makanan

  • Kampanye edukasi kesehatan yang lebih agresif

  • Dukungan bagi pedagang kecil untuk mengurangi penggunaan garam


Masalah Konsumsi Garam Bukan Hanya di Thailand

Tingginya konsumsi natrium bukan hanya terjadi di Thailand. Secara global, masalah ini menjadi tantangan kesehatan masyarakat di banyak negara.

Pada tahun 2013, seluruh negara anggota WHO berkomitmen menurunkan konsumsi natrium global sebesar 30 persen pada tahun 2025.

Namun hingga tahun 2023, belum ada satu pun negara yang berhasil mencapai target tersebut.

Rata-rata konsumsi natrium dunia bahkan mencapai 4.130 miligram per hari, jauh di atas batas yang direkomendasikan.

Beberapa negara di Asia juga memiliki tingkat konsumsi garam yang tinggi:

  • Singapura: sekitar 3.620 mg per hari

  • Indonesia: sekitar 4.200 mg per hari


Kekhawatiran Pedagang Kecil

Di sisi lain, pedagang makanan kecil seperti Pirada merasa khawatir dengan rencana kebijakan pajak tersebut.

Ia mengaku bisnis kuliner kecil di Bangkok sudah menghadapi tantangan besar, mulai dari meningkatnya biaya bahan baku hingga penurunan jumlah pelanggan.

Kenaikan harga akibat pajak baru dikhawatirkan akan semakin memberatkan pedagang kecil dan pelanggan mereka.


Rencana Thailand menerapkan pajak natrium menunjukkan betapa seriusnya pemerintah menghadapi krisis kesehatan akibat konsumsi garam berlebih. Di satu sisi, kebijakan ini berpotensi menyelamatkan ribuan nyawa dan mengurangi risiko penyakit kronis dalam jangka panjang. Namun di sisi lain, perubahan pola makan masyarakat yang telah terbentuk selama puluhan tahun bukanlah hal yang mudah.

Apakah pajak garam benar-benar mampu mengubah kebiasaan kuliner masyarakat Thailand? Atau justru diperlukan pendekatan yang lebih luas dan menyeluruh?

Ikuti terus perkembangan berita kesehatan global dan kebijakan publik terbaru hanya di Berita Viral Detik, sumber informasi terpercaya yang selalu menghadirkan berita menarik, mendalam, dan aktual setiap hari.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *