Aksi Joget di Acara Prabowo Viral, Pemilik SPPG MBG Hendrik Irawan Sampaikan Permintaan Maaf
Jakarta – Nama Hendrik Irawan kembali menjadi sorotan publik setelah video dirinya berjoget dalam sebuah acara bersama Presiden Prabowo Subianto di Sentul, Bogor, pada 3 Juni lalu, kembali viral di media sosial.
Aksi tersebut memicu beragam reaksi warganet hingga menjadi perbincangan luas, terutama karena dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Klarifikasi Hendrik: Minta Maaf ke Publik
Melalui akun Instagram pribadinya, Hendrik akhirnya buka suara dan menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Indonesia. Ia menegaskan bahwa kegaduhan yang muncul akibat video tersebut bukanlah sesuatu yang ia rencanakan.
Dalam pernyataannya, Hendrik menyebut bahwa aksinya telah dipelintir oleh sebagian pihak sehingga menimbulkan kesalahpahaman di ruang publik.
Ia menegaskan tidak ada niat untuk merendahkan siapa pun atau melecehkan acara yang sedang berlangsung.
Joget Karena Diminta Peserta Lain
Hendrik menjelaskan bahwa momen joget tersebut terjadi secara spontan. Ia mengaku hanya merespons ajakan dari peserta lain yang berada di lokasi acara.
Menurutnya, suasana saat itu cukup cair sehingga interaksi antar peserta terjadi secara alami tanpa ada skenario tertentu.
“Karena diminta teman-teman juga, saya ikut joget. Tapi ternyata malah jadi ramai,” ungkapnya.
Permintaan Maaf ke Kepala BGN
Selain kepada publik, Hendrik juga secara khusus menyampaikan permintaan maaf kepada Kepala Badan Gizi Nasional Badan Gizi Nasional, Nanik S. Deyang.
Ia mengaku sangat menghormati dan bangga terhadap kepemimpinan baru di lembaga tersebut, serta berharap tidak ada kesalahpahaman yang berkepanjangan.
Hendrik juga menyampaikan doa agar Nanik selalu diberi kesehatan dan keberkahan dalam menjalankan tugasnya.
Pernah Jadi Sorotan Sebelumnya
Ini bukan pertama kalinya Hendrik menjadi perhatian publik. Sebelumnya, ia juga sempat viral akibat aksi joget dalam konteks program MBG pada akhir Maret lalu.
Akibat kejadian tersebut, unit SPPG miliknya sempat ditutup sementara sebagai bentuk evaluasi dan penanganan internal.
Saat itu, ia juga sudah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan menyatakan siap menerima konsekuensi atas tindakannya.
Kasus viral yang melibatkan Hendrik Irawan kembali menyoroti bagaimana momen di ruang publik bisa dengan cepat menjadi perbincangan luas di era media sosial. Klarifikasinya menunjukkan upaya meredam kesalahpahaman yang sudah terlanjur berkembang.
Perkembangan isu ini masih terus menjadi perhatian publik dan menjadi salah satu topik hangat dalam pemberitaan berita viral detik yang mengulas dinamika antara pejabat, program pemerintah, dan opini masyarakat di era digital.








